Renungan Mahabbah Rujukan Redaksi

Adzan Berkumandang, Hati Melayang: Mengapa Sulit Khusyuk?

Jam lima sore, notifikasi email pekerjaan masuk lagi, menumpuk di atas tumpukan kekhawatiran cicilan bulan depan. Di tengah dering ponsel dan layar laptop yang ...

Adzan Berkumandang, Hati Melayang: Mengapa Sulit Khusyuk?
Himbauan redaksi

Artikel ini disusun sebagai bahan bacaan dan rujukan awal. Untuk kajian akademis, pembaca disarankan mencocokkan dalil, kutipan, dan istilah dengan sumber primer atau pembimbing keilmuan yang terpercaya.

Jam lima sore, notifikasi email pekerjaan masuk lagi, menumpuk di atas tumpukan kekhawatiran cicilan bulan depan. Di tengah dering ponsel dan layar laptop yang menyala, sayup-sayup terdengar suara adzan Ashar. Namun, seringkali, panggilan suci itu hanya lewat begitu saja, tenggelam dalam riuhnya pikiran dan kesibukan yang tak berujung. Pernahkah kamu merasa hati ini mendesah, menyadari betapa jauhnya kita dari khusyuk, meski telinga mendengar seruan itu?

Panggilan Langit di Tengah Deru Dunia

Keresahan ini bukanlah hal asing. Dalam pusaran hidup modern yang serba cepat, adzan kerap menjadi sekadar latar suara, sebuah melodi yang akrab namun tak lagi menyentuh kedalaman jiwa. Kita tahu ia adalah panggilan shalat, namun hati masih sibuk merangkai daftar tugas, menghitung kerugian, atau melarikan diri pada hiburan maya. Kelelahan batin akibat tekanan hidup, beban utang yang tak kunjung usai, atau konflik rumah tangga yang menguras energi, seringkali membuat kita kehilangan “kehadiran hati” (hudhur al-qalb) bahkan saat panggilan Ilahi itu menggema.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menekankan bahwa inti dari ibadah adalah kehadiran hati. Tanpa hudhur al-qalb, ibadah kita hanyalah gerakan fisik tanpa ruh. Adzan, sejatinya, adalah jeda, sebuah undangan untuk melepaskan sejenak beban dunia dan menyambungkan kembali tali spiritual yang mungkin telah kendur. Rasulullah SAW sendiri mengajarkan pentingnya menyambut adzan. Bahkan, setan pun lari terbirit-birit saat adzan dikumandangkan, mencoba menjauhkan manusia dari panggilan suci ini. Sebagaimana sabda beliau:

إِذَا نُودِيَ بِالأَذَانِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لاَ يَسْمَعَ التَّأْذِينَ، فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ بِالصَّلاَةِ أَدْبَرَ، حَتَّى إِذَا قَضَى التَّثْوِيبَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطِرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ، يَقُولُ: اذْكُرْ كَذَا وَاذْكُرْ كَذَا، لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ مِنْ قَبْلُ، حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ لاَ يَدْرِي كَمْ صَلَّى.

“Apabila diserukan adzan untuk shalat, setan lari terkentut-kentut hingga tidak mendengar adzan. Apabila adzan telah selesai, ia datang lagi. Apabila dikumandangkan iqamah, ia lari lagi. Apabila iqamah selesai, ia datang lagi dan menyelinap di antara seseorang dan hatinya, lalu ia berkata, ‘Ingatlah ini, ingatlah itu,’ dari apa yang sebelumnya tidak ia ingat, hingga seseorang itu tidak tahu berapa rakaat ia shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini secara gamblang menunjukkan bagaimana setan bekerja untuk mencuri khusyuk kita, bahkan sejak adzan berkumandang. Ia membisikkan kembali ingatan tentang dunia, tentang masalah yang belum selesai, tentang kekhawatiran yang tak ada habisnya, persis seperti yang kita alami. Khusyuk saat mendengar adzan adalah pertempuran pertama melawan bisikan-bisikan ini.

Baca Juga

Nabi Ibrahim Menatap Bintang: Kisah Bapak Para Nabi Mencari Wajah Tuhan

Menyambut Panggilan dengan Mahabbah

Lantas, bagaimana kita bisa kembali menghidupkan khusyuk ini? Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam mengajarkan tentang pentingnya melepaskan diri dari keterikatan duniawi untuk mencapai kehadiran sejati bersama Allah SWT. Ini bukan berarti kita harus meninggalkan dunia, melainkan mengubah cara pandang kita terhadapnya. Ketika adzan berkumandang, ia bukan sekadar pengumuman waktu shalat, melainkan undangan langsung dari Sang Pencipta untuk kembali kepada-Nya. Ini adalah momen untuk mempraktikkan mahabbah (cinta) kita kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Menghentikan sejenak aktivitas, menarik napas dalam-dalam, dan dengan sadar mengarahkan hati kepada makna setiap lafadz adzan adalah langkah awal. Bayangkan setiap seruan “Allahu Akbar” sebagai pengingat bahwa tidak ada yang lebih besar dari Allah SWT, tidak ada masalah yang lebih besar dari kekuasaan-Nya. Setiap “Hayya ‘alash shalah” adalah ajakan untuk menemukan ketenangan dan solusi dalam shalat. Allah SWT berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).

Adzan adalah gerbang menuju dzikir, gerbang menuju ketenangan hati yang kita dambakan di tengah hiruk pikuk kehidupan. Dengan menyambut adzan secara penuh, kita sedang melatih hati untuk istiqomah dalam mengingat Allah SWT, membangun fondasi mahabbah yang kokoh. Ini adalah langkah kecil namun konsisten, tanpa tekanan, tanpa janji berlebihan, murni pembinaan hati agar senantiasa merindu kepada Rasulullah SAW dan ajaran-Nya.

Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.

Bagikan Artikel
Arsip Bacaan

Jelajahi tulisan lainnya

18 pilihan
Renungan Mahabbah

Nabi Ibrahim Menatap Bintang: Kisah Bapak Para Nabi Mencari Wajah Tuhan

04 Aug 2026
Renungan Mahabbah

Kenapa Kebahagiaan yang Menunggu Sesuatu Selalu Datang Terlambat?

04 Aug 2026
Renungan Mahabbah

Kaum yang Memahat Gunung Jadi Istana, Tapi Hancur oleh Satu Suara

20 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Kaum Aad Bertanya: Siapa yang Lebih Kuat dari Kami?

20 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Cinta yang Tidak Menawar: Kenapa Sholawat Justru Dimulai dari Nol?

19 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Nabi Adam Terjatuh, Lalu Menemukan Pintu: Rahasia Taubat yang Sering Kita Lupakan

15 Jul 2026
Renungan Mahabbah

950 Tahun Berdakwah, Segelintir yang Percaya: Rahasia Istiqomah Nabi Nuh

15 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Nabi yang Diangkat ke Tempat Tinggi: Rahasia Nabi Idris yang Sering Kita Lupakan

15 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Nabi Adam Terjatuh, Lalu Menemukan Pintu: Rahasia Taubat yang Sering Kita Lupakan

15 Jul 2026
Renungan Mahabbah

950 Tahun Berdakwah, Segelintir yang Percaya: Rahasia Istiqomah Nabi Nuh

15 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Nabi yang Diangkat ke Tempat Tinggi: Rahasia Nabi Idris yang Sering Kita Lupakan

15 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Nabi Adam Terjatuh, Lalu Menemukan Pintu: Rahasia Taubat yang Sering Kita Lupakan

15 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Teknologi Melesat, Kenapa Batin Bangsa Ini Terasa Makin Tertinggal?

13 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Kenapa Anak Zaman Ini Mudah Cemas Meski Hidup Tampak Nyaman?

11 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Rezeki Seret Karena MBG, atau Karena Adab Kita pada Nikmat?

10 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Kenapa Pikiran Makin Ramai Saat Hati Ingin Tenang?

10 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Kenapa Beban Riba Terasa Tak Punya Jalan Pulang?

09 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Ketika Sekolah Mahal: Apa yang Diajarkan Perjalanan Nabi Musa?

09 Jul 2026
Disclaimer

Catatan penggunaan rujukan AlFatihRPS

Artikel di AlFatihRPS disusun sebagai bahan bacaan, pengingat, dan pintu awal menuju kajian yang lebih tertib. Untuk keputusan hukum, fatwa, atau kajian akademis mendalam, pembaca tetap dianjurkan mencocokkan dalil dan penjelasan dengan guru, pembimbing, atau sumber primer yang terpercaya.

Home Doa Kategori Al-Qur'an Member

Pilih Kategori

Navigasi Artikel

AKTIVITAS JAMAAH baru saja
Memuat...

Live Statistik

Realtime
Sholawat Hari Ini ...
Khatam Quran ...
Jadwal Sholat Sidoarjo --
SUBUH
--:--
DZUHUR
--:--
ASHAR
--:--
MAGHRIB
--:--
ISYA
--:--
Logo AlFatihRPS

Instal Portal AlFatihRPS

Pasang aplikasi untuk akses cepat artikel, komunitas, dan fitur lainnya langsung dari HP Anda.