Renungan Mahabbah Rujukan Redaksi

Kenapa Lisan Keras pada yang Muda, Padahal Hati Ingin Bijaksana?

Jam tujuh malam, kamu baru saja sampai rumah setelah hari yang panjang. Tumpukan cucian belum terlipat, tagihan listrik menanti, dan tiba-tiba anakmu atau kepon...

Kenapa Lisan Keras pada yang Muda, Padahal Hati Ingin Bijaksana?
Himbauan redaksi

Artikel ini disusun sebagai bahan bacaan dan rujukan awal. Untuk kajian akademis, pembaca disarankan mencocokkan dalil, kutipan, dan istilah dengan sumber primer atau pembimbing keilmuan yang terpercaya.

Jam tujuh malam, kamu baru saja sampai rumah setelah hari yang panjang. Tumpukan cucian belum terlipat, tagihan listrik menanti, dan tiba-tiba anakmu atau keponakanmu yang masih belia datang dengan pertanyaan yang diulang-ulang, atau tingkah laku yang terasa โ€œtidak sopanโ€ di telinga yang sudah lelah. Seketika, tanpa sadar, lisanmu meluncurkan teguran yang lebih mirip bentakan, menusuk hati kecil mereka. Setelahnya, ada penyesalan yang menggerogoti. โ€œKenapa aku jadi sebegini kasar?โ€ bisik hatimu.

Momen seperti ini bukan cerita asing. Beban hidup, tekanan pekerjaan, atau bahkan sekadar kelelahan batin seringkali membuat kita kehilangan kendali atas lisan, terutama pada mereka yang kita anggap โ€œlebih rendahโ€ atau โ€œbelum mengertiโ€. Kita tahu adab itu penting, kita tahu Rasulullah SAW adalah teladan kelembutan, namun mengapa menjaga adab berbicara dengan yang lebih muda terasa begitu berat di tengah badai emosi pribadi? Apakah karena kita merasa punya hak untuk bersikap demikian karena usia atau posisi?

Padahal, Islam mengajarkan kita untuk menyebarkan rahmat, bukan hanya kepada yang lebih tua atau sejajar, melainkan juga kepada yang lebih muda. Adab berbicara, terutama kepada anak-anak atau generasi di bawah kita, adalah cerminan dari kematangan jiwa dan kelembutan hati. Rasulullah SAW, yang menjadi teladan akhlak kita, senantiasa menunjukkan kasih sayang dan kelembutan dalam setiap interaksinya, bahkan dengan anak-anak. Beliau tidak pernah mencela atau menghardik. Sebuah hadits mulia mengingatkan kita akan pentingnya hal ini:

ู„ูŠุณ ู…ู†ุง ู…ู† ู„ู… ูŠุฑุญู… ุตุบูŠุฑู†ุง ูˆูŠูˆู‚ุฑ ูƒุจูŠุฑู†ุง

(HR. Tirmidzi), yang artinya, โ€œBukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda di antara kami dan tidak menghormati yang tua di antara kami.โ€ Hadits ini bukan hanya tentang kewajiban yang muda kepada yang tua, tapi juga tanggung jawab kita yang lebih dewasa untuk menyayangi dan mendidik dengan cara yang penuh kasih.

Imam Al-Ghazali dalam karya agungnya, Ihya' Ulumuddin, secara mendalam membahas tentang adab al-mu'asyarah (etika pergaulan) dan pentingnya husnul khuluq (akhlak mulia). Beliau menegaskan bahwa akhlak yang baik bukan sekadar tampilan luar, melainkan manifestasi dari kondisi batin yang jernih. Bagi Al-Ghazali, mengendalikan lisan adalah salah satu pilar utama akhlak, dan ini berlaku untuk semua interaksi, termasuk dengan mereka yang usianya di bawah kita. Beliau menekankan bahwa kasih sayang dan kelembutan harus terpancar dari hati yang tenang, bukan dari paksaan atau tuntutan semata. Begitu pula Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam, seringkali menyiratkan bahwa kekasaran lisan kita seringkali berakar dari kegelisahan batin atau ego yang belum terpoles. Ia mengajak kita untuk melihat setiap makhluk sebagai cerminan keagungan Allah SWT, sehingga menuntut kita untuk berinteraksi dengan penuh hormat dan kelembutan.

Baca Juga

Nabi Ibrahim Menatap Bintang: Kisah Bapak Para Nabi Mencari Wajah Tuhan

Lantas, bagaimana kita menumbuhkan kelembutan itu di tengah himpitan hidup? Kuncinya ada pada pembinaan hati, pada mahabbah โ€” cinta sejati kepada Allah dan Rasulullah SAW. Ketika hati kita dipenuhi oleh cinta ini, ia akan memancarkan kasih sayang (rahmah) kepada seluruh makhluk, termasuk anak-anak dan mereka yang lebih muda. Sholawat adalah salah satu jembatan menuju mahabbah tersebut. Ia bukan sekadar lantunan lisan, melainkan sebuah zikir yang membersihkan hati dari kotoran amarah, kelelahan, dan ego. Ia menenangkan jiwa, menjernihkan pikiran, dan pada akhirnya, melembutkan lisan kita. Sebagaimana firman Allah:

ูˆูŽู‚ููˆู„ููˆุง ู„ูู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุญูุณู’ู†ู‹ุง

(QS. Al-Baqarah: 83), โ€œdan ucapkanlah perkataan yang baik kepada manusia.โ€ Perkataan yang baik itu bermula dari hati yang baik pula.

Maka, saat kita merasa lisan mulai menajam, ingatlah bahwa itu adalah sinyal dari hati yang sedang lelah atau terbebani. Tarik napas, ingatkan diri akan teladan Rasulullah SAW, dan biarkan sholawat yang telah kita panjatkan menenangkan gejolak batin. Menegur atau mendidik tetap perlu, namun dengan hikmah dan mau'izhah hasanah (nasihat yang baik), bukan dengan amarah yang merendahkan. Sebab, tugas kita bukan hanya mendidik akal mereka, tapi juga membentuk hati mereka agar kelak mereka tumbuh menjadi generasi yang penuh adab dan kasih sayang, seperti yang dicita-citakan Rasulullah SAW.

Perjalanan menjaga adab berbicara, terutama dengan yang lebih muda, adalah bagian tak terpisahkan dari upaya kita menjadi pribadi yang lebih baik, pribadi yang merindukan Rasulullah SAW dan meneladani akhlaknya. Ini adalah pembinaan hati yang berkelanjutan, sebuah ikhtiar untuk senantiasa menyebarkan rahmat. Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an โ€” klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama. Mari kita bangun generasi perindu Rasulullah SAW yang bukan hanya cerdas ilmunya, tapi juga luhur akhlaknya, dimulai dari lisan kita.

Bagikan Artikel
Arsip Bacaan

Jelajahi tulisan lainnya

18 pilihan
Renungan Mahabbah

Nabi Ibrahim Menatap Bintang: Kisah Bapak Para Nabi Mencari Wajah Tuhan

04 Aug 2026
Renungan Mahabbah

Kenapa Kebahagiaan yang Menunggu Sesuatu Selalu Datang Terlambat?

04 Aug 2026
Renungan Mahabbah

Kaum yang Memahat Gunung Jadi Istana, Tapi Hancur oleh Satu Suara

20 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Kaum Aad Bertanya: Siapa yang Lebih Kuat dari Kami?

20 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Cinta yang Tidak Menawar: Kenapa Sholawat Justru Dimulai dari Nol?

19 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Nabi Adam Terjatuh, Lalu Menemukan Pintu: Rahasia Taubat yang Sering Kita Lupakan

15 Jul 2026
Renungan Mahabbah

950 Tahun Berdakwah, Segelintir yang Percaya: Rahasia Istiqomah Nabi Nuh

15 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Nabi yang Diangkat ke Tempat Tinggi: Rahasia Nabi Idris yang Sering Kita Lupakan

15 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Nabi Adam Terjatuh, Lalu Menemukan Pintu: Rahasia Taubat yang Sering Kita Lupakan

15 Jul 2026
Renungan Mahabbah

950 Tahun Berdakwah, Segelintir yang Percaya: Rahasia Istiqomah Nabi Nuh

15 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Nabi yang Diangkat ke Tempat Tinggi: Rahasia Nabi Idris yang Sering Kita Lupakan

15 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Nabi Adam Terjatuh, Lalu Menemukan Pintu: Rahasia Taubat yang Sering Kita Lupakan

15 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Teknologi Melesat, Kenapa Batin Bangsa Ini Terasa Makin Tertinggal?

13 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Kenapa Anak Zaman Ini Mudah Cemas Meski Hidup Tampak Nyaman?

11 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Rezeki Seret Karena MBG, atau Karena Adab Kita pada Nikmat?

10 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Kenapa Pikiran Makin Ramai Saat Hati Ingin Tenang?

10 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Kenapa Beban Riba Terasa Tak Punya Jalan Pulang?

09 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Ketika Sekolah Mahal: Apa yang Diajarkan Perjalanan Nabi Musa?

09 Jul 2026
Disclaimer

Catatan penggunaan rujukan AlFatihRPS

Artikel di AlFatihRPS disusun sebagai bahan bacaan, pengingat, dan pintu awal menuju kajian yang lebih tertib. Untuk keputusan hukum, fatwa, atau kajian akademis mendalam, pembaca tetap dianjurkan mencocokkan dalil dan penjelasan dengan guru, pembimbing, atau sumber primer yang terpercaya.

Home Doa Kategori Al-Qur'an Member

Pilih Kategori

Navigasi Artikel

AKTIVITAS JAMAAH baru saja
Memuat...

Live Statistik

Realtime
Sholawat Hari Ini ...
Khatam Quran ...
Jadwal Sholat Sidoarjo --
SUBUH
--:--
DZUHUR
--:--
ASHAR
--:--
MAGHRIB
--:--
ISYA
--:--
Logo AlFatihRPS

Instal Portal AlFatihRPS

Pasang aplikasi untuk akses cepat artikel, komunitas, dan fitur lainnya langsung dari HP Anda.