Renungan Mahabbah Rujukan Redaksi

Kenapa Pujian Kita Justru Membuat Anak Merasa Tidak Cukup?

Pernahkah kamu merasa, meski sudah sering memuji anakmu dengan 'Hebat, Nak!' atau 'Pintar sekali kamu!', ia tetap terlihat kurang percaya diri? Atau bahkan, puj...

Kenapa Pujian Kita Justru Membuat Anak Merasa Tidak Cukup?
Himbauan redaksi

Artikel ini disusun sebagai bahan bacaan dan rujukan awal. Untuk kajian akademis, pembaca disarankan mencocokkan dalil, kutipan, dan istilah dengan sumber primer atau pembimbing keilmuan yang terpercaya.

Pernahkah kamu merasa, meski sudah sering memuji anakmu dengan 'Hebat, Nak!' atau 'Pintar sekali kamu!', ia tetap terlihat kurang percaya diri? Atau bahkan, pujianmu justru membuatnya cemas untuk mencoba hal baru, takut jika tidak bisa mengulang 'kehebatan' yang kamu sanjung? Keresahan ini bukan isapan jempol belaka. Banyak orang tua, dengan niat terbaik, justru tanpa sadar menanamkan benih keraguan di hati buah hatinya.

Kita sering lupa bahwa pujian bukan sekadar rangkaian kata manis, melainkan sebuah cerminan dari niat dan pemahaman kita tentang tumbuh kembang jiwa. Pujian yang dangkal, yang hanya fokus pada hasil akhir atau bakat bawaan, bisa membentuk mentalitas yang rapuh. Anak akan merasa nilainya tergantung pada 'pintar' atau 'hebat'nya dia, bukan pada usaha, proses, atau bahkan keberaniannya untuk mencoba dan gagal. Ini adalah beban berat bagi jiwa kecil yang sedang mencari identitasnya.

Pujian yang Berakar pada Mahabbah dan Ikhlas

Dalam khazanah tasawuf, setiap tindakan, termasuk lisan kita, harus berakar pada niat yang tulus dan hati yang bersih. Imam Al-Ghazali, dalam Ihya' Ulumuddin, seringkali menekankan pentingnya ikhlas (ketulusan) dan niyyah (niat) dalam setiap amal. Pujian yang tulus, yang datang dari hati yang penuh cinta (mahabbah) dan keinginan untuk membangun, akan terasa berbeda. Ia tidak akan sekadar memuji hasil, tetapi mengapresiasi proses, kegigihan, dan keberanian anak. Ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur'an:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ * تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, yang menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan izin Tuhannya? Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim: 24-25)

Ayat ini mengajarkan kita bahwa 'kalimat yang baik' (termasuk pujian) harus memiliki akar yang kuat, yakni niat yang benar dan hati yang bersih, agar dapat tumbuh menjulang dan berbuah manfaat secara berkelanjutan. Pujian yang hanya di bibir, tanpa akar keikhlasan, ibarat pohon tanpa akar yang mudah tumbang.

Membangun Kepercayaan Diri dengan Kelembutan Nabi SAW

Maka, bagaimana seharusnya kita memuji? Bukan berarti berhenti memuji, tetapi mengubah cara kita memuji. Pujilah usaha anak, ketekunannya, keberaniannya mencoba hal baru, atau bahkan caranya mengatasi kesulitan. Contoh: daripada 'Kamu pintar sekali!', coba 'Wah, Mama/Papa lihat kamu berusaha keras sekali menyelesaikan ini. Hebat usahamu, Nak!' Ini menggeser fokus dari identitas 'pintar' (yang bisa goyah jika gagal) ke 'usaha' (yang bisa diulang dan diperbaiki). Pendekatan ini selaras dengan ajaran Nabi SAW yang selalu menekankan rifq (kelembutan) dalam segala urusan.

Baca Juga

Nabi Ibrahim Menatap Bintang: Kisah Bapak Para Nabi Mencari Wajah Tuhan

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ

“Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah kelembutan dicabut dari sesuatu melainkan akan menjadikannya buruk.” (HR. Muslim)

Kelembutan dalam bertutur, termasuk dalam memberikan pujian, akan menghiasi jiwa anak, menumbuhkan rasa aman, dan membangun kepercayaan diri yang kokoh. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam karya-karyanya seringkali menyinggung bagaimana pembinaan jiwa yang benar memerlukan perhatian pada detail-detail kecil dalam interaksi, termasuk kata-kata yang kita pilih. Pujian yang lembut dan tepat sasaran adalah investasi jangka panjang bagi kesehatan mental dan spiritual anak.

Menjadi Orang Tua yang Merindu Rasulullah SAW

Pada akhirnya, mendidik anak adalah perjalanan panjang pembinaan hati, baik hati anak maupun hati kita sendiri sebagai orang tua. Kecintaan kita kepada Rasulullah SAW mengajarkan kita teladan kasih sayang dan kelembutan yang tiada tara. Dengan meneladani akhlak beliau, kita belajar bagaimana mencintai dan membimbing anak dengan cara yang membangun, bukan meruntuhkan. Mari kita mulai dari diri sendiri, membersihkan hati dan niat, agar setiap kata yang keluar dari lisan kita menjadi kalimat thayyibah yang menumbuhkan.

Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.

Bagikan Artikel
Arsip Bacaan

Jelajahi tulisan lainnya

18 pilihan
Renungan Mahabbah

Nabi Ibrahim Menatap Bintang: Kisah Bapak Para Nabi Mencari Wajah Tuhan

04 Aug 2026
Renungan Mahabbah

Kenapa Kebahagiaan yang Menunggu Sesuatu Selalu Datang Terlambat?

04 Aug 2026
Renungan Mahabbah

Kaum yang Memahat Gunung Jadi Istana, Tapi Hancur oleh Satu Suara

20 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Kaum Aad Bertanya: Siapa yang Lebih Kuat dari Kami?

20 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Cinta yang Tidak Menawar: Kenapa Sholawat Justru Dimulai dari Nol?

19 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Nabi Adam Terjatuh, Lalu Menemukan Pintu: Rahasia Taubat yang Sering Kita Lupakan

15 Jul 2026
Renungan Mahabbah

950 Tahun Berdakwah, Segelintir yang Percaya: Rahasia Istiqomah Nabi Nuh

15 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Nabi yang Diangkat ke Tempat Tinggi: Rahasia Nabi Idris yang Sering Kita Lupakan

15 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Nabi Adam Terjatuh, Lalu Menemukan Pintu: Rahasia Taubat yang Sering Kita Lupakan

15 Jul 2026
Renungan Mahabbah

950 Tahun Berdakwah, Segelintir yang Percaya: Rahasia Istiqomah Nabi Nuh

15 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Nabi yang Diangkat ke Tempat Tinggi: Rahasia Nabi Idris yang Sering Kita Lupakan

15 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Nabi Adam Terjatuh, Lalu Menemukan Pintu: Rahasia Taubat yang Sering Kita Lupakan

15 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Teknologi Melesat, Kenapa Batin Bangsa Ini Terasa Makin Tertinggal?

13 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Kenapa Anak Zaman Ini Mudah Cemas Meski Hidup Tampak Nyaman?

11 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Rezeki Seret Karena MBG, atau Karena Adab Kita pada Nikmat?

10 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Kenapa Pikiran Makin Ramai Saat Hati Ingin Tenang?

10 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Kenapa Beban Riba Terasa Tak Punya Jalan Pulang?

09 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Ketika Sekolah Mahal: Apa yang Diajarkan Perjalanan Nabi Musa?

09 Jul 2026
Disclaimer

Catatan penggunaan rujukan AlFatihRPS

Artikel di AlFatihRPS disusun sebagai bahan bacaan, pengingat, dan pintu awal menuju kajian yang lebih tertib. Untuk keputusan hukum, fatwa, atau kajian akademis mendalam, pembaca tetap dianjurkan mencocokkan dalil dan penjelasan dengan guru, pembimbing, atau sumber primer yang terpercaya.

Home Doa Kategori Al-Qur'an Member

Pilih Kategori

Navigasi Artikel

AKTIVITAS JAMAAH baru saja
Memuat...

Live Statistik

Realtime
Sholawat Hari Ini ...
Khatam Quran ...
Jadwal Sholat Sidoarjo --
SUBUH
--:--
DZUHUR
--:--
ASHAR
--:--
MAGHRIB
--:--
ISYA
--:--
Logo AlFatihRPS

Instal Portal AlFatihRPS

Pasang aplikasi untuk akses cepat artikel, komunitas, dan fitur lainnya langsung dari HP Anda.