Malam hari, setelah anak-anak terlelap, seringkali kita masih terjaga. Bukan karena pekerjaan kantor yang menumpuk, melainkan karena bayangan masa depan mereka. Apakah mereka akan cukup makan? Apakah pendidikan mereka terjamin? Bagaimana jika mereka tidak โsuksesโ seperti anak-anak lain? Kegelisahan ini, walau lahir dari cinta, seringkali justru menggerogoti ketenangan batin kita sendiri.
Kita hidup di era yang serba kompetitif, di mana ukuran keberhasilan seringkali dibingkai dalam angka-angka materi. Akibatnya, tanpa sadar kita menanamkan kecemasan yang sama pada anak-anak. Ajaran tentang โusaha kerasโ seringkali terpisah dari โpasrah kepada takdirโ, menciptakan paradoks dalam benak mereka: harus berjuang mati-matian, tapi hasil akhir tetap misteri. Ini bukan hanya beban bagi orang tua, tapi juga potensi kebingungan identitas bagi generasi penerus.
Dalam kacamata hikmah, rezeki bukanlah sekadar hasil dari jerih payah kita, melainkan karunia langsung dari Sang Maha Pemberi. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
ุฅูููู ุงูููููู ูููู ุงูุฑููุฒููุงูู ุฐูู ุงูููููููุฉู ุงููู
ูุชูููู
(Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh). (QS. Az-Zariyat: 58). Ayat ini menegaskan bahwa sumber utama rezeki adalah Allah, bukan semata-mata kecerdasan atau kekuatan manusia. Imam Al-Ghazali, dalam Ihya' Ulumuddin, mengajarkan bahwa tawakkal (berserah diri) bukanlah berarti meninggalkan ikhtiar (usaha), melainkan menempatkan hati pada keyakinan bahwa hasil akhir sepenuhnya di tangan Allah, setelah kita menunaikan usaha terbaik.Lalu, bagaimana kita mengajarkan konsep ini pada anak? Bukan dengan mengajarkan kemalasan, melainkan dengan menanamkan keseimbangan antara usaha yang sungguh-sungguh dan keyakinan yang kokoh. Rasulullah SAW bersabda:
ูู ุฃููู
ุชูููุชู
ุนูู ุงููู ุญู ุชูููู ูุฑุฒููู
ูู
ุง ูุฑุฒู ุงูุทูุฑ ุชุบุฏู ุฎู
ุงุตุง ูุชุฑูุญ ุจุทุงูุง
Baca Juga
Mengapa Hati Tetap Gelisah Meski Rezeki Berlimpah atau Seret?
(Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Dia akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung; ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang). (HR. Tirmidzi). Hadits ini bukan sekadar janji rezeki, melainkan sebuah metafora tentang pentingnya bergerak (burung pergi di pagi hari) dan pada saat yang sama, meyakini bahwa Allah akan mencukupi (kembali kenyang).Mengajarkan anak tentang rezeki berarti mengajarkan mereka tentang nilai istiqomah dalam beramal, baik itu dalam belajar, bekerja, maupun beribadah. Ini adalah pembinaan hati (mahabbah) yang mengikat mereka pada kecintaan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Ketika hati telah terpaut pada Sang Pencipta, ketenangan akan hadir, dan pandangan mereka terhadap rezeki akan meluas: bukan hanya uang, tapi juga kesehatan, ilmu, keluarga yang harmonis, dan ketenangan jiwa. Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam mengingatkan kita bahwa amal itu adalah bentuk pengabdian, bukan alat untuk menarik manfaat duniawi. Begitu pula dengan rezeki, ia datang sebagai anugerah atas ketaatan dan usaha, bukan hasil tawar-menawar.
Maka, tugas kita sebagai orang tua adalah menjadi teladan dalam istiqomah, dalam usaha, dan dalam tawakkal. Ajak anak-anak untuk memahami bahwa setiap usaha adalah bagian dari ibadah, dan setiap rezeki adalah ujian syukur. Dengan demikian, kita tidak hanya menyiapkan mereka untuk โsuksesโ di dunia, tetapi juga untuk memiliki hati yang tenang dan jiwa yang kaya, yang senantiasa merindu pada Rasulullah SAW dan ridha Allah SWT.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an โ klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.