Renungan Mahabbah Rujukan Redaksi

Mengapa Pola Asuh Berbeda Ayah-Ibu Justru Melukai Hati Anak?

Pernahkah kamu melihat anakmu menatap bingung, bimbang harus mengikuti perintah ayah atau ibu yang saling bertolak belakang? Mungkin pagi ini ia dilarang makan ...

Mengapa Pola Asuh Berbeda Ayah-Ibu Justru Melukai Hati Anak?
Himbauan redaksi

Artikel ini disusun sebagai bahan bacaan dan rujukan awal. Untuk kajian akademis, pembaca disarankan mencocokkan dalil, kutipan, dan istilah dengan sumber primer atau pembimbing keilmuan yang terpercaya.

Pernahkah kamu melihat anakmu menatap bingung, bimbang harus mengikuti perintah ayah atau ibu yang saling bertolak belakang? Mungkin pagi ini ia dilarang makan es krim olehmu, tapi sorenya sang ayah justru membelikannya. Atau, saat kamu menuntut disiplin waktu belajar, ibunya malah membiarkan ia bermain gawai hingga larut. Hati kecil anak itu, tanpa kita sadari, sedang menanggung beban kebingungan yang berat, belajar bahwa aturan adalah sesuatu yang bisa dinegosiasikan, atau bahkan dimanipulasi. Keresahan ini bukan hanya soal es krim atau gawai, melainkan fondasi karakter dan pemahaman nilai yang sedang rapuh.

Inkonsistensi dalam pola asuh, meski seringkali berakar dari niat baik masing-masing orang tua, justru menciptakan celah yang menganga dalam jiwa anak. Anak-anak membutuhkan batas yang jelas dan konsisten untuk merasa aman dan memahami dunia di sekelilingnya. Ketika batas itu bergeser atau bahkan bertolak belakang antara ayah dan ibu, mereka akan tumbuh dengan kebingungan tentang apa yang benar dan salah, apa yang boleh dan tidak boleh. Ini bukan hanya memicu perilaku tantrum, tapi juga dapat membentuk pribadi yang manipulatif atau kurang percaya diri karena tidak memiliki pegangan yang kuat.

Dalam kacamata tasawuf, pembentukan karakter anak adalah bagian dari *tarbiyah* (pendidikan) yang berkesinambungan, sebuah amanah ilahi yang menuntut kesungguhan dan keselarasan. Imam Al-Ghazali, dalam kitab agungnya *Ihya' Ulumuddin*, berulang kali menekankan pentingnya teladan dan konsistensi dalam mendidik anak. Beliau mengibaratkan hati anak seperti tanah kosong yang siap ditanami; jika ditanami benih yang baik dan dirawat dengan konsisten, ia akan menghasilkan buah yang manis. Namun, jika perawatannya tidak seragam, benih itu bisa tumbuh liar atau bahkan mati. Keselarasan dalam pola asuh adalah manifestasi dari *ihsan* (berbuat baik) dalam mendidik, sebuah upaya mencapai kualitas terbaik dalam menunaikan amanah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala sendiri mengingatkan kita akan bahaya perpecahan dan pentingnya kesatuan, yang hikmahnya bisa kita tarik dalam konteks keluarga. Firman-Nya:

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46)

Ayat ini, meskipun dalam konteks peperangan, memberikan pelajaran universal tentang dampak negatif perselisihan. Dalam rumah tangga, perselisihan pola asuh antara ayah dan ibu akan mengikis kekuatan pendidikan, membuat anak “gentar” dalam memahami nilai, dan menghilangkan “kekuatan” otoritas orang tua. Konsistensi bukan berarti kaku, melainkan kesepakatan yang kokoh dalam prinsip, yang dibangun atas dasar musyawarah dan saling menghormati antara pasangan.

Baca Juga

Nabi Ibrahim Menatap Bintang: Kisah Bapak Para Nabi Mencari Wajah Tuhan

Rasulullah SAW juga menegaskan tanggung jawab kolektif orang tua. Beliau bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهَا وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka...” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini secara jelas menunjukkan bahwa baik ayah maupun ibu memiliki peran kepemimpinan dan tanggung jawab yang saling melengkapi dalam keluarga. Tanggung jawab ini menuntut adanya keselarasan visi dan misi dalam mendidik, agar “rakyat” kecil kita, yaitu anak-anak, tidak bingung mencari arah. Konsistensi dalam pola asuh adalah wujud dari menjalankan amanah kepemimpinan ini dengan sebaik-baiknya, demi membangun generasi yang berkarakter kuat dan berpegang teguh pada nilai.

Membangun pola asuh yang konsisten membutuhkan komunikasi terbuka, empati, dan kesediaan untuk saling belajar antara pasangan. Ini adalah proses pembinaan hati, bukan hanya untuk anak, tapi juga untuk orang tua itu sendiri. Ketika ayah dan ibu bersatu padu dalam visi dan metode, anak akan merasakan ketenangan, keamanan, dan fondasi nilai yang kokoh. Inilah *mahabbah* yang termanifestasi dalam tindakan, meneladani Rasulullah SAW yang senantiasa mengajarkan keselarasan dan kebaikan dalam setiap aspek kehidupan.

Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.

Bagikan Artikel
Arsip Bacaan

Jelajahi tulisan lainnya

18 pilihan
Renungan Mahabbah

Nabi Ibrahim Menatap Bintang: Kisah Bapak Para Nabi Mencari Wajah Tuhan

04 Aug 2026
Renungan Mahabbah

Kenapa Kebahagiaan yang Menunggu Sesuatu Selalu Datang Terlambat?

04 Aug 2026
Renungan Mahabbah

Kaum yang Memahat Gunung Jadi Istana, Tapi Hancur oleh Satu Suara

20 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Kaum Aad Bertanya: Siapa yang Lebih Kuat dari Kami?

20 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Cinta yang Tidak Menawar: Kenapa Sholawat Justru Dimulai dari Nol?

19 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Nabi Adam Terjatuh, Lalu Menemukan Pintu: Rahasia Taubat yang Sering Kita Lupakan

15 Jul 2026
Renungan Mahabbah

950 Tahun Berdakwah, Segelintir yang Percaya: Rahasia Istiqomah Nabi Nuh

15 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Nabi yang Diangkat ke Tempat Tinggi: Rahasia Nabi Idris yang Sering Kita Lupakan

15 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Nabi Adam Terjatuh, Lalu Menemukan Pintu: Rahasia Taubat yang Sering Kita Lupakan

15 Jul 2026
Renungan Mahabbah

950 Tahun Berdakwah, Segelintir yang Percaya: Rahasia Istiqomah Nabi Nuh

15 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Nabi yang Diangkat ke Tempat Tinggi: Rahasia Nabi Idris yang Sering Kita Lupakan

15 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Nabi Adam Terjatuh, Lalu Menemukan Pintu: Rahasia Taubat yang Sering Kita Lupakan

15 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Teknologi Melesat, Kenapa Batin Bangsa Ini Terasa Makin Tertinggal?

13 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Kenapa Anak Zaman Ini Mudah Cemas Meski Hidup Tampak Nyaman?

11 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Rezeki Seret Karena MBG, atau Karena Adab Kita pada Nikmat?

10 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Kenapa Pikiran Makin Ramai Saat Hati Ingin Tenang?

10 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Kenapa Beban Riba Terasa Tak Punya Jalan Pulang?

09 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Ketika Sekolah Mahal: Apa yang Diajarkan Perjalanan Nabi Musa?

09 Jul 2026
Disclaimer

Catatan penggunaan rujukan AlFatihRPS

Artikel di AlFatihRPS disusun sebagai bahan bacaan, pengingat, dan pintu awal menuju kajian yang lebih tertib. Untuk keputusan hukum, fatwa, atau kajian akademis mendalam, pembaca tetap dianjurkan mencocokkan dalil dan penjelasan dengan guru, pembimbing, atau sumber primer yang terpercaya.

Home Doa Kategori Al-Qur'an Member

Pilih Kategori

Navigasi Artikel

AKTIVITAS JAMAAH baru saja
Memuat...

Live Statistik

Realtime
Sholawat Hari Ini ...
Khatam Quran ...
Jadwal Sholat Sidoarjo --
SUBUH
--:--
DZUHUR
--:--
ASHAR
--:--
MAGHRIB
--:--
ISYA
--:--
Logo AlFatihRPS

Instal Portal AlFatihRPS

Pasang aplikasi untuk akses cepat artikel, komunitas, dan fitur lainnya langsung dari HP Anda.